ads

29 Agustus 2021

  • Follow us

Sekolah Tatap Muka Menunggu Semua Pelajar Divaksin

Sekolah Tatap Muka Menunggu Semua Pelajar Divaksin

 

Oleh : Reza Pahlevi 

Editor : Ida Bastian

Pelaksanaan sekolah tatap muka tetap menunggu semua pelajar selesai mendapatkan vaksin. Hal ini diperlukan untuk melindungi siswa dari penularan Covid-19 dan mengganggu tren positif pengendalian virus Corona. 

Saat pandemi sekolah masih dilaksanakan di rumah. Pemerintah belum mengizinkan untuk dibuka kembali karena para murid yang rata-rata masih kecil rawan tertular corona. Apalagi banyak dari mereka yang belum divaksin. Para orang tua diharap lebih sabar dalam mendampingi anak-anaknya selama pembelajaran daring.

Pandemi membuat kita harus beradaptasi akan berbagai hal. Kerja dilakukan dari rumah, sekolah juga dilaksanakan secara online. Terhitung hampir 3 semester anak-anak belajar daring dan mereka melakukan studi via Zoom, Google Meet, dan mengerjakan tugas via WA, email, atau Google form.

Saat tahun ajaran baru 2021 para orang tua berharap anak-anaknya bisa masuk sekolah lagi alias pembelajaran tatap muka. Namun pemerintah memutuskan bahwa ada penundaan lagi. Penyebabnya walau mayoritas para guru sudah mendapatkan vaksin, tetapi para murid banyak yang belum mendapatkannya. Vaksinasi untuk remaja (12 tahun ke atas) masih belum sebanyak vaksinasi untuk dewasa.

Pemerintah mempertimbangkan untuk menunda pembukaan sekolah karena jumlah murid lebih banyak daripada jumlah guru. Yang dipikirkan adalah keselamatan siswa, sehingga jangan sampai ada klaster corona yang terbentuk. Nyawa mereka lebih berharga sehingga sekolah dari rumah durasinya tetap diperpanjang.

Nanti jika para murid sudah divaksin, sekolah akan dibuka secara bertahap. Dalam artian, rencananya masuk seminggu 3 kali saja, karena kapasitas kelas dikurangi 50% untuk mencegah kerumunan. Sehingga pembelajaran tidak 100% tatap muka tetapi hybird alias setengah online setengah offline.

Selain itu ada peraturan yang lebih ketat selama pembelajaran tatap muka di tengah pandemi. Para murid, guru, sampai karyawan di sekolah wajib pakai masker (bukan hanya face shield). Saat akan masuk, mereka wajib mencuci tangan dan membawa hand sanitizer, serta menjaga jarak antar murid. Mereka juga tidak boleh jajan di kantin, tetapi wajib membawa bekal agar lebih higienis dan mencegah kerumunan saat membeli camilan.

Jika hanya murid yang sudah divaksin yang boleh sekolah tatap muka, maka siswa yang masih SD dan TK masih melanjutkan belajar daring. Penyebabnya karena usia mereka masih di bawah 12 tahun dan saat ini belum ada vaksin corona di Indonesia yang tersedia untuk mereka. Nanti jika sudah ada vaksin untuk anak-anak, bahkan balita, SD dan TK baru boleh dibuka lagi.

Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X juga belum mengizinkan proses belajar tatap muka di wilayahnya. Izin baru diberikan ketika seluruh siswa sudah disuntik vaksin Covid. Resiko untuk sekolah offline masih terlalu besar untuk anak-anak. Dalam artian, larangan ini demi kesehatan para murid, jadi orang tuanya wajib bersabar dalam mendampingi mereka belajar online.

Sri Sultan Hamengkubuwono X menambahkan, walau sekolah masih ditutup tetapi ada upaya untuk mempercepat pembukaannya. Caranya dengan menggencarkan vaksinasi untuk para pelajar. Sehingga mereka akan mendapatkan imunitas dan saat semuanya sudah disuntik, baru sekolah akan dibuka lagi.

Sekolah tatap muka memang ditunggu-tunggu, terutama oleh para ibu. Penyebabnya karena tidak semuanya bisa dengan full menemani anak-anak belajar di rumah, karena harus bekerja di kantor (jika bekerja di sektor essensial). Namun bisa disiasati dengan memanggil guru pendamping atau mengikutkan anak-anak di bimbingan belajar online.

Pembukaan sekolah tatap muka masih belum tahu direncanakan bulan apa, karena menunggu vaksinasi untuk pelajar selesai 100%. Jangan nekat membuka sekolah dengan alasan ini dan itu, karena takut ada klaster corona baru. Ingatlah bahwa kasus Covid di Indonesia masih tinggi (di atas 10.000 orang per hari) jadi bersabar saja dan beajar dari rumah.


)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute