ads

27 Agustus 2021

  • Follow us

Hoax dan Provokasi KST Ganggu Kedamaian di Papua

 

Oleh : Putu Prawira 

Editor : Ida Bastian

Kedamaian di Papua  terganggu oleh isu hoax dan provokasi yang sengaja disebar oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua. Mereka memang selalu membuat manuver baru untuk menekan psikologis masyarakat, sehingga publik diharapkan tidak terpengaruh dan tetap tenang menyikapi hoaks dan provokasi KST Papua.

Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa dan warna kulit, termasuk Papua. Di Indonesia timur, secara fisik memang berbeda jauh dengan warga asli Jawa atau Sunda. Namun kita selalu menyadari bahwa perbedaan itu indah dan tidak usah dipermasalahkan, karena Bhinneka Tunggal Ika dan berkomitmen menjaga persatuan Indonesia.

Akan tetapi belakangan muncul isu rasisme yang berembus di Papua, ketika ada kericuhan di apartemen di Jakarta Selatan, yang diprotes oleh warga Negara Nigeria. Sehingga peristiwa ini dimanfaatkan oleh KST yang mendompleng black lives matter. Penyebabnya karena KST merasa bahwa ini adalah kasus rasisme.

Padahal yang terjadi di sini tidak sama seperti di Amerika. Jika di Amerika ada petugas yang dengan kejam menindih seseorang hingga meninggal dunia, maka di Indonesia lain cerita. Tidak bisa disamaratakan apalagi dihubungkan dengan isu rasisme yang ada di negeri Paman Sam, karena tidak apple to apple.

Kakanwi Kemenkumham Jakarta Ibnu Chuldun menerangkan kronologisnya: petugas imigrasi melakukan pengecekan (yang sudah biasa dilakukan secara berkala) di sebuah apartemen di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Ada warga negara Nigeria yang emosi karena tidak mau menunjukkan kartu identitasnya dan izin tinggal sementara (KITAS) sehingga memicu keributan. 

Akhirnya petugas berinisiatif untuk dibawa ke kantor keimigrasian. Namun di dalam kendaraan, WNA tersebut makin emosi dan melawan petugas, lantas ia berteriak, meronta, dan menggigit, sampai petugas memar dan berdarah. Ia bahkan ingin memecahkan kaca mobil dengan vape elektronik. Spontan petugas memeganginya agar ia tidak berulah dan membahayakan seluruh penumpang.

Sampai di kantor imigrasi, sang WNA baru mengaku statusnya sebagai diplomat. Miskomunikasi ini yang membuat pubik terhenyak, karena mengapa ia tak mau bercerita sejak awal? Apa susahnya menunjukkan KITAS? Petugas melakukan pengantaran ke kantor imigrasi karena menjalankan kerjanya, bukan karena rasisme atau penyebab lain.

Isu ini yang dibakar oleh KST dan mereka menggaungkan kembali isu black lives matter. Seolah-olah kekerasan yang terjadi di Amerika dan Indonesia sama saja, sama rasisnya. Padahal tidak sama, karena di Indonesia terjadi karena WNA yang tidak kooperatif, dan pemerintah kita tidak pernah memakai isu SARA saat menegakkan peraturan.

Black lives matter tidak pernah ada di Indonesia, dan masyarakat perlu melihat kasus WNA Nigeria secara utuh. Pemerintah tidak pernah berniat untuk memberangus orang negro maupun warga Papua yang ciri fisiknya mirip, karena sama saja dengan melanggar pancasila. Kita adalah bangsa yang majemuk dan Bhinneka tunggal ika, dan tidak ada perbedaan perlakuan ke semua suku di negeri ini.

Jangan sampai nasionalisme warga sipil jadi terambil gara-gara ulah OPM, karena warga terpengaruh oeh hoax. Kenyataannya,  tidak mau untuk berpisah dari Indonesia. Mereka paham bahwa hoax dan propaganda yang disebarkan, dibuat untuk menekan warga sipil secara psikologis. Namun masyarakat tahu bahwa KST memang selalu ingin mengacau dan mencari perhatian dengan cara negatif.

Hoax dan propaganda yang disebar oleh KST sangat menyebalkan karena mereka selalu menjungkirbalikkan fakta, padahal kenyataannya tidak benar. Masyarakat diminta untuk tidak terpengaruh oleh isu-isu di luar sana, yang disebar oleh KST, karena mereka memang sengaja menciptakannya untuk merusak perdamaian di Bumi Cendrawasih.