ads

21 April 2021

Belajar Dari India: Mengantisipasi Tsunami Covid-19 dengan Disiplin Prokes 5M


Oleh : Dodik Prasetyo 

Editor : Ida Bastian

Meski tempat wisata dan tempat ibadah telah dibuka, bukan berarti masyarakat abai terhadap penerapan protokol kesehatan, apalagi status pandemi belum berakhir dan vaksinasi belum mencapai target. Masyarakat perlu belajar dari penambahan kasus Covid-19 di India yang angkanya tiba-tiba melesat akibat warga negaranya lengah menerapkan Prokes.

Perihal antisipasi lonjakan Covid-19, sepertinya kita perlu belajar pada negara India, dimana India tengah dilanda gelombang kedua Covid-19. Kejadian tersebut bahkan digambarkan seperti tsunami.

Worldometer menunjukan data bahwa jumlah kasus positif Covid-19 di India sudah berhasil tembus hingga 15,06 juta kasus. India kini menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbesar kedua di dunia. Posisi tersebut sebelumnya ditempati oleh Brazil, dan peringkat pertama masih dipegang oleh Amerika Serikat (AS) dengan 32,4 juta kasus.

Meledaknya kasus Covid-19 di India disinyalir karena masyarakat di sana semaking abai dalam menerapkan protokol kesehatan. Beberapa bulan terakhir terjadi pesta pernikahan besar-besaran di India. Banyak masyarakat tidak mengenakan masker ketika keluar dari rumah.

Selain itu, banyak pula masyarakat yang berkumpul untuk mengikuti kampanye politik tanpa menggunakan masker dan jaga jarak. Beberapa negara bagian India memang melakukan pemilihan umum daerah (pilkada) seperti di daerah Tamil Nadu.

Adapun, ritual keagamaan yang diikuti oleh banyak masyarakat India. Ritual tersebut adalah ritual menghapus dosa dengan mandi di sungai Gangga. Dalam ritual ini banyak masyarakat yang tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak.

Seorang Urologist di Coimbatore India, Senthil. Mengatakan bahwa orang-orang di India menjadi sangat terlena, dan bertindak seolah-olah virus corona telah hilang, di mana hal tersebut merupakan hal yang absurd.

Saat ini, India mengalami gelombang infeksi virus corona yang lebih buruk daripada yang pertama dan skala penyebarannya semakin buruk.

Senthil mencontohkan, penyebaran yang semakin buruk tersebut ada di daerah Tamil Huda, di mana hanya butuh waktu 15 hari untuk mencapai tingkat infeksi tertinggi yang pernah dicapai negara bagian india itu yang memberikan tekanan pada rumah sakit. Bahkan di kota-kota besar negara bagian lainnya, rumah sakit sudah hampir penuh.

Para pakar di India menyebut bahwa lonjakan kasus ini kemungkinan disebabkan karena adanya Corona varian baru yang lebih cepat menular. Hal ini diperburuk dengan banyaknya warga India yang tidak lagi khawatir akan bahayanya virus tersebut.

Setelah ritual keagamaan di sungai atau Kumbh Mela, dan dilaksanakan dalam beberapa hari. Kebanyakan dari peserta ritual ini tidak menerapkan protokol kesehatan saat mandi bersama di Sungai Gangga, India.

Akibat tsunami kasus Covid-19 tersebut, mayat-mayat bertumpuk di luar rumah sakit pemerintah India, Raipur. Ini disebabkan karena banyaknya pasien Corona yang tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal. Namun, karena jumlahnya yang terlalu banyak, tidak mungkin bisa dikremasi dengan cepat.

Parahnya, sejumlah rumah sakit di India mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen hingga membuat banyak pasien Corona tak bisa terselamatkan. Menurut seorang politisi lokal di kotamadya Vasai Virar, Maharashtra, ia membuat permohonan publik untuk membantu mengatasi kekurangan oksigen tersebut.

Selain pasokan oksigen, jumlah bed di rumah sakit untuk menangani pasien Corona juga terbatas. Di New Delhi bahkan hanya memiliki bed atau tempat tidur kurang dari 100 di seluruh RS.

Kondisi ini menyebabkan banyak warga India mengeluh soal kurangnya jumlah tempat tidur di RS, tabung oksigen, hingga obat-obatan.

Kekhawatiran yang lebih besar adalah bahwa dalam 24 jam terakhir, angka positivity rate meningkat menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya 24 persen. Kasus-kasus meningkat sangat cepat.

Meskipun sejauh ini telah lebih dari 108 juta orang telah divaksinasi, hal ini rupanya belum cukup untuk menghentikan gelombang kedua Covid-19.

Padahal Januari lalu, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan menyebutkan bahwa negaranya berhasil mencapai herd immunity.

Sebagian besar pakar meyakini, munculnya gelombang kedua Covid-19 India muncul akibat mereka merasa puas diri usai kasus Coronya sempat turun drastis.

Dari kasus ini tentu kita belajar bahwa protokol kesehatan masih harus tetap digalakkan, meski mengalami penurunan prevalensi dan berjalannya program vaksinasi, hal ini dikarenakan status pandemi Covid-19 belum berakhir.


)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini