ads

Jumat, 31 Juli 2020

Khotif Idul Adha, Wahid Iskandar Barus Sampaikan Kisah Nabi Ibrahim Dalam Kehidupan Saat Ini

Khotif Idul Adha, Wahid Iskandar Barus Sampaikan Kisah Nabi Ibrahim Dalam Kehidupan Saat Ini
BATU BARA, LintasTotabuan.com - Betapa berat ujian dan cobaan yang dialami Nabi Ibrahim AS. Beliau terpaksa berselisih paham dengan ayahandanya, dibakar hidup-hidup, berpisah dengan keluarganya, harus menyembelih anak semata wayang, anak yang sangat disayang. Namun dengan asas iman, tulus ikhlas, taat dan patuh akan perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim AS akhirnya lolos dan lulus dalam melewati berbagai ujian dan cobaan tersebut. Lalu apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nabi Ibrahim AS untuk kehidupan kita sekarang ini?

Demikian disampaikan Wahid Iskandar Barus SPdi pada saat Khotif idul adha di Musholla An Nur Dusun Lubuk Pulai ll (Dua), Desa Sei Raja, Kecamatan Medang Deras, Kabupaten Batubara, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (31/7/2020) sekira jam 07.30 Wib. 

" Pelajaran pertama adalah pendekatan diri demi cinta kepada Allah SWT. Dalam beberapa ayat Alquran disebutkan bagaimana usaha nabi Ibrahim AS untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dimulai dari perenungan siapa yang patut disembah, Lalu terlintas dalam pikirannya apakah tuhan itu bintang, bulan, atau matahari. Ketiga planet ini tidak bisa diterimanya juga, karena ketiganya terkadang ada muncul dan terkadang menghilang. Ia menginginkan Tuhan yang senantiasa hadir, hadir di pikirannya, hadir di hatinya, dan hadir dalam setiap perbuatannya. Tak lain dan tak bukan adalah Allah SWT semata"

" Pelajaran yang kedua adalah pengorbanan demi cita-cita yang luhur, Nabi Ibrahim AS dapat perintah Allah SWT untuk membawa istrinya Hajar dan anaknya Ismail yang baru dilahirkan ke suatu tempat yang sangat tandus,  secara naluri kebapakan tidak sampai hati untuk mencampakan mereka di tempat yang tidak ada tanaman sama sekali, tidak ada hewan yang bisa diperah susunya, dan tidak seorang manusia pun yang bisa dimintakan pertolongannya. Menghadapi pengorbanan ini nabi Ibrahim AS berdoa dan menyerahkan urusannya kepada Allah SWT" 

" Pelajaran ketiga adalah qurban sebagai realisasi keadilan sosial, Idul Adha yang juga lazim dinamai Idul Qurban mengandung konotasi pemaknaan dimensi sosial. Pemaknaan ini tergambar dari komponen pembagian hasil penyembelihan hewan kurban kepada fakir miskin. Di sini, ditujukan untuk menimbulkan nuansa egaliter dalam masyarakat. Sayangnya, Pesan ini tidak banyak dipikirkan oleh kebanyakan kaum Muslimin. Padahal, seperti halnya daging kurban, kebaikan adalah sesuatu yang dapat ditularkan. Kebanyakan kaum muslimin hanya terpaku pada pemberdayaan keimanan diri sendiri. Menjadi orang yang paling baik dari pada orang lain, Dengan demikian, pemberdayaan masyarakat menjadi kata kuncinya. Di musim Covid-19 ini, banyak saudara kita yang kurang beruntung, kehilangan pekerjaan, kesulitan mencari lapangan pekerjaan, selalu dihantui kecemasan. Maka di hari idul Adha ini kepedulian kita kepada sesama sebaiknya tidak terbatas hanya pada pembagian daging qurban semata, tetapi lebih dari itu yaitu kita senantiasa ada kepedulian kepada sesama, antara lain mencari jalan keluar agar saudara-saudara yang kurang beruntung mendapat kehidupan yang layak"

Pelajaran keempat menurut Wahid, Cinta Tanah Air yang aman dan damai. Nabi Ibrahim AS secara ekplisit menyebut negeri yang aman sebanyak  dua kali dalam do'anya. Ini menunjukkan bahwa Ibrahim AS sangat merindukan negeri yang aman.

Dengan demikian kata Wahid yang merupakan Kepala Desa setempat, mari kita jaga keamanan, keimanan dan kemakmuran negara kita khususnya Desa Sei Raja ini sehingga kita termasuk manusia yang bersyukur atas nikmat yang telah dikaruniakan Allah SWT, ujar Kades lulusan pesantren tersebut. (MA) 

Berita Menarik Lannya

Berita Terkini