ads

Selasa, 26 Mei 2020

GERAMM : Eksistensi Idul Fitri Terselubung, Saat Negara Belum Pulih?

GERAMM : Eksistensi Idul Fitri Terselubung, Saat Negara Belum Pulih?
Ditulis oleh : Arwan Syahputra
(Ketua Gerakan Mahasiswa Medang Deras) Kab. Batu bara.

Nasib bangsa dan negara tak tanggung-tanggung sejak covid-19 alias virus corona ini masuk ke Negara Indonesia. Selain berdampak dari segi kesehatan, ekonomi, juga berdampak di sisi sosial dan budaya (SosBud) . 

Bagai terkena angin duduk, Indonesia pun menjadi sesak akibat virus pandemi satu ini. 

Menurut Menteri keuangan,  Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan bahwa kerugian ekonomi yang terjadi akibat wabah virus corona mencapai US$9 triliun sepanjang 2020-2021. Nominal itu dikatakannya setara ekonomi Jerman dan Jepang.(Sumber : wartaekonomi.co.id). 

Bahkan dari segi sosial dan kebiasaan masyarakat, Kita temui di lapangan, (pasar, mol, dan tempat yang biasa keramaian), baik anak-anak maupun dewasa, yang jomblo maupun telah menikah, semua  mengekspresikan idul fitri dengan berbeda dengan suasana sedikit hening, apalagi kalau bukan karena si corona.

Sejak Kementerian agama RI menetapkan 1 Syawal 1441 H/idul Fitri jatuh pada 24 Mei 2020 kemarin, hati kita selaku masyarakat tak sebahagia idul fitri sebelumnya, saat idul Fitri adalah momentumnya silaturahmi keluarga, saling berjumpa tatap muka, bertegur sapa, apa jadinya karena negara di landa corona, semua itu hanya sekedar harapan, menyayat hati kita, karena akibat corona, pemerintah mengatur dan melarang mudik, yang menghambat sanak keluarga bertatap muka. 

Bagaimana sakit nya saat harapan mereka berbanding terbalik dengan kenyataan?. 

Salah seorang ilmuwan terkemuka,  Zachary Edward Snyder (lahir 1 Maret 1966) yang merupakan sutradara, produser, dan penulis skenario Amerika, mendeskripsikan soal harapan. 
Menurut Snyder (Carr, 2004:90), harapan adalah kemampuan untuk merencanakan jalan keluar dalam upaya mencapai tujuan walaupun adanya rintangan, dan menjadikan motivasi sebagai suatu cara dalam mencapai tujuan. 

Namun justru realitas berkata lain, tidak tercapai nya harapan masyarakat untuk ber idul fitri sebagaimana mestinya, membuat harapan mereka menjadi 'ilusi', bahkan eksistensi idul fitri itu terselelimuti (terselubung). 

Perintah pelarangan mudik itu kemudian diwujudkan oleh Kementerian Perhubungan dalam bentuk Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Permenhub yang ditetapkan pada 23 April 2020 itu diatur mengenai pelarangan sementara penggunaan sarana transportasi baik itu darat, laut, udara, serta perkeretaapian (Pasal 1 Ayat 2). Khususnya yang mengangkut penumpang untuk aktivitas mudik lebaran 2020, misalnya angkutan umum seperti bus, mobil penumpang, kereta api, pesawat terbang, angkutan sungai danau dan penyeberangan serta kapal laut. Permenhub ini juga mengatur mengenai pemakaian kendaraan, baik mobil ataupun sepeda motor untuk keperluan mudik (Pasal 3). (Sumber  : indonesia.go.id)

akibatnya, Isak tangis membasahi pipi para keluarga yang berjauhan, karena semua di batasi, namun sebagai warga negara yang baik, mendukung upaya mereka (pemerintah) selagi baik dan untuk kepentingan bangsa dan negara adalah kewajiban, dan bagian dari nilai nasionalisme (Cinta terhadap negara). 

Pemerintah juga menganjurkan agar silaturahmi tetap di gelar secara online, menggunakan perkembangan teknologi yg ada. 

Namun, anjuran itu justru berbanding terbalik dengan konser amal yang di gelar oleh pemerintah itu sendiri?, moment silaturahmi di anjurkan via online, namun penggalangan dana kenapa tidak secara online? Demi menjaga keadilan dan menjunjung tinggi kesamaan kedudukan. 
Rakyat kembali tersakiti, dan selalu merasa senjang dengan penguasa, ketimpangan pun semakin merajalela. 

Di situasi ini, sudah sepantasnya pemerintah memasang wajah yang serius, tidak bermuka dua, apalagi plin plan, yang menjunjung tinggi azas keadilan sosial sesuai falsafah Pancasila itu sendiri.

Sekarang ini,  kondisi Indonesia yang masih berduka, yang terkonfirmasi sebanyak :
Positif 22.750, Sembuh 5.642,Meninggal, 1.391, yang di update Terakhir: 25-05-2020 (sumber : covid19.go.id),  perlu adanya kerja sama semua pihak, untuk menekana angka penyebaran covid- 19.

Momentum idul fitri dengan kondisi negara yang belum sembuh dan pulih, sudah semestinya pemangku jabatan (pemegang sistem), menjadi tauladan yang baik, dan masyarakat mendukung upaya mereka. 

Bahkan, Masyrakat Indonesia, hari ini berupaya taat terhadap regulasi yang di keluarkan pemerintah, termasuk soal protokol kesehatan, yang rela tidak mudik, tidak berkumpul keluarga, demi menekan angka tersebar nya virus satu itu. 

Tidaklah mengapa, perayaan idul fitri sedikit berbeda, dengan suasana yang terselubung, saat negara belum juga pulih , karna virus belum juga pergi. Namun segala kebijakan, wajib transparansi, output dan input untuk bangsa dan negara. 

Karena pengorbanan untuk negara bagian dari cinta terhadap tanah air, yang bahkan menurut tokoh pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari, Cinta terhadap negara bagian dari iman (Hubbul Wathan minal iman). 
Berita Menarik Lannya

Berita Terkini