Breaking News

Perlunya Jaga Persatuan, Buang Arogan, Dan Tunggu Pengumuman KPU RI

loading...

Ditulis Oleh : Arwan Syahputra
Pemerhati Muda Demokrasi Indonesia

Pasca Pemilu Kemarin, segala macam bentuk dan upaya dalam mengklaim pemenangan masing-masing pasangan calon dilakukan, baik melalui Lembaga survey, maupun survey internal Paslon Presiden dan wakil presiden. Kendati demikian, lembaga negara yang memiliki fungsi dan wewenang dalam mengumumkan hasil pemilu adalah Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang sesuai Amanah Undang-undang No.7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

Namun pada dasarnya, Rekapitulasi Hasil Pemilu 2019 belum di umumkan, tapi masih ada diantara Kandidat maupun tim sukses berserta relawan meng-klaim dengan segala macam bahasa, bahwa ia telah jadi Presiden/wakil presiden 2019-2024.

Pengakuan, pernyataan, bahkan konferensi pers, yang menyatakan salah satu Paslon menang, berdasarkan survey internal/ Lembaga survey dipersilahkan saja, karena itu adalah hak individu yang tak bisa di dikte dan di campuri. Namun demikian, ada beberapa Poin penting yang perlu ditekankan adalah "Persatuan Indonesia" sesuai termaktub dalam sila ke -3 Pancasila.

Klaim pemenangan itu, justru menggugat perdamaian dan persatuan Indonesia, pasalnya suhu politik yang kian memanas, masing-masing Paslonpun akan bertambah panas jika upaya "klaim" sedemikian terus berlanjut dan berlangsung, Bahkan ironi nya lagi masih ada pendukung yang membuat poster "selamat atas menang nya Si A/B menjadi Presiden dan wakil presiden 2019-2024" sungguh miris.

Rekapitulasi KPU terkait dengan Hasil Pemilu 17 April 2019 Kemarin akan di umumkan pada Mei mendatang, dan perlu nya bersabar dalam menunggu Real Count KPU RI, bukan berpedoman dari quick count yang kebenarannya belum teruji secara empirik.

Seharusnya, sikap yang paling negarawan dari kedua Paslon, jika Mereka bisa legowo dan menunggu hasil yang terpercaya secara fakta dan teruji, bukan nya malah berpedoman quick count dan menyimpulkan diwaktu dini.

Imbasnya adalah "Buram nya ke Utuhan NKRI", dengan klaim Sekian persen di A atau B, berdasarkan Survey Nasional bahkan internasional, nantinya jika Hasil dari KPU berbanding terbalik dengan klaim yang dilakukan, yang ada bukanlah menghargai hasil, tapi bisa saja berlaku Makar, dengan merek "people power".

Untuk itu, menurut hemat saya jiwa patriot dan negarawan itu dibuktikan dengan bersabar dan tunggu hasil Real Count KPU Republik Indonesia.

Tidak ada komentar