Selasa, 16 Oktober 2018

Ijtihad HMI Sebagai Resolusi Kebangkitan Islam

Ijtihad HMI Sebagai Resolusi Kebangkitan Islam
banner 468x60
AHMAD TAMAMI JAFAR

Keterbelakangan umat Islam sampai saat ini belumlah berakhir, meskipun ada beberapa reaksi yang muncul dikalangan dunia Islam, namun hal tersebut belum mampu memperbaiki nasib umat Islam yang telah mengalami keterpurukan.

Padahal Islam sebagai tata kelola kehidupan diturunkan dengan membawa misi menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sejarah juga pernah mencatatkan bahwa daulah Islam dan umat Islam terdahulu pernah menjadi bangsa yang kuat dan disegani dimata dunia.

Kemandekan dan kegagapan yang dialami oleh umat Islam adalah akibat kondisi kultural-intellektual yang diwariskan oleh abad pertengahan yang  telah membuat umat Islam mengalami stagnasi bahkan menempati posisi terbelakang dalam tatanan kehidupan global. Hal ini berakibatkan umat Islam secara politik dipermainkan oleh kekuatan dari luar Islam, secara ekonomi umat Islam menjadi yang terbelakang dan secara intellektual umat islam hanya menjadi konsumen bahkan menjadi yang terlambat.

Hal yang paling utama yang dianggap sebagai penyebab keterbelakangan umat Islam adalah berpangkal pada pola fikir umat  Islam secara umum. Seperti yang dikatakan oleh Jalaluddin Rahmat “bahwa untuk merubah sesuatu harus merubah pola fikir terlebih dahulu.”

Terkait terbelakangnya kehidupan umat Islam, diagnosis sosial yang dilakukan oleh Muhammad Iqbal terhadap gejala ini menemukan bahwa yang menjadi faktor utama jika tidak boleh dikatakan sebagai penyakit yang membuat pemikiran umat Islam mengalami dekadensi adalah konservatisme, mistisme dan materialisme.

Adapun yang dimaksudkan dengan konservatisme disini adalah umat Islam cenderung menekankan ketaatan mutlak pada tradisi sehingga merusak kebebasan kreatif diri. Sedangkan mistisme yang dimaksudkan seperti yang diajarkan pada abad pertengahan yaitu untuk menolak ego dan dunia konkret. Dan materialisme difahami sebagai sesuatu yang memutuskan diri dengan realitas ultim sehingga melumpuhkan energi intuitif manusia.

Kemudian Abdul Karim Soroush, pemikir muslim asal Iran berpendapat bahwa umat Islam telah melakukan kesalahan fatal, dikarenakan ketika berbicara syari’at maupun fiqh mereka hanya membatasi jangkauannya hanya pada kumpulan sistem hukum Islam saja. Jika fiqh dalam makna sempit ini mendapatkan citra yang begitu menggelembung, sehingga pemahaman agama yang seharusnya begitu luas justru diperkecil, maka umat Islam akan selalu mengalami kerugian yang fatal.

Dalam menyikapi kemunduran umat Islam oleh para pemikir muslim telah melakukan serangkaian kerja intellektual serius. Sebut saja dari mulai abad 19 oleh Muhammad Abduh hingga kini pembaruan terus dilakukan. Namun pengaruhnya belum memperbaiki dunia Islam secara keseluruhan.

Untuk itu menurut Bambang Irawan : "perlu dilakukan Ijtihad (berani berfikir sendiri secara intellektual) sebagai usaha yang dilakukan secara maksimal atau kesungguhan yang dilakukan secara totalitas dalam mencapai sebuah tujuan. Ijtihad juga merupakan refleksi yang mendalam terhadap keseluruhan tradisi Islam dan situasi baru yang dihadapinya."

Ijtihad merupakan alternatif dalam upaya pembaharuan pemikiran umat Islam agar mampu menjawab permasalahan dan perkembangan baru  yang timbul di era post-modernisme ini.

Ijtihad yang dimaksudkan disini adalah keberanian untuk mengeluarkan pemikiran secara intellektual yang dipersiapkan dengan kompetensi dari sang mujtahid yang tetap berpangkal tolak pada al-Quran dan al-Hadist sebagai keterangan dan petunjuk atas segala sesuatu guna meraih kembali kejayaan Islam seperti dimasa lampau.

Jika Islam sebagai tata kelola kehidupan yang diyakini mampu melahirkan sistem dipelbagai bidang kehidupan, kesemuanya itu tak mungkin dilakukan secara baik dan sempurna kecuali terlebih dahulu membangun sistem pemikiran yang tepat untuk menghadapi tantangan yang lahir di era post-modernisasi ini.

Setidaknya ada tiga cara yang menjadi upaya agar Islam kembali menjadi kekuatan potensial.
Pertama: Sikap atau rasa prihatin terhadap keterbelakangan yang dialami umat Islam. Selanjutnya melakukan diagnosa sosial terkait faktor yang menyebabkan kemunduran umat Islam tersebut.

Kedua: Mereview kembali pemikiran ulama ulama terdahulu disamping memahami metodologi yang mereka gunakan seraya melakukan kontemplasi terhadap al-Quran dan al-Hadist. Kemudian memahami mana yang menjadi ajaran Islam yang bersifat absolut dan ajaran Islam yang bukan dasar, nisbi dan harus diperbaharui.

Ketiga: Mengedukasi pemikiran umat Islam agar tidak terpenjara dengan taklid secara buta terhadap pendahulunya, disamping menegaskan bahwa ijtihad para ulama terdahulu bukanlah sesuatu yang mutlak sehingga tidak dapat diperbaharui. Selanjutnya menawarkan solusi terkait gagasan gagasan untuk membawa umat Islam kepada kemajuan.

Ijtihad yang diharapakan mampu menjadi resolusi menuju kebangkitan umat islam haruslah lahir dari pemikiran seorang mujtahid yang memiliki kemampuan intellektual yang mumpuni serta kecakapan dalam memahami dalil dalil yang tertuang dalam al-Quran dan al-Hadist.

Syarat sebagai seorang mujtahid yang disebutkan diatas yakni memiliki kemampuan intellektual yang mumpuni serta kecakapan dalam memahami dalil dalil yang tertuang dalam al-Quran dan al-Hadist telah dirangkum dalam kualitas Insan Cita  yang menjadi penjabaran tujuan secara organisatoris Himpunan Mahasiswa Islam. Yakni, Insan Akademis, Insan pencipta, Insan Pengabdi, Insan yang bernafaskan Islam dan Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.

Selanjutnya, konsep insan cita Himpunan Mahasiswa Islam yang dikualifikasi dengan lima kualitas tersebut harus dimiliki oleh setiap kader HMI.

Adapun lima kualitas Insan Cita HMI secara rinci sebagai berikut:
Pertama: Insan Akademis
Setiap kader HMI dituntut untuk berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis.
Kader HMI juga diharuskan memiliki kemampuan teoritis, mampu memformulasikan apa yang diketahui dan dirahasiakan. Selalu berlaku dan mengahadapi suasana sekelilingnya dengan kesadaran.
Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu yang dipilihnya, baik secara teoritis maupun teknis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip prinsip perkembangan.

Kedua: Insan Pencipta
Sanggup melihat kemungkinan kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada, dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari yang ada (yaitu Allah). Berjiwa penuh dengan gagasan gagasan kemajuan, selalu mencari perbaikan dan pembaharuan.
Bersifat independen dan terbuka, tidak isolatif, insan yang menyadari dengan sikap demikian potensi kreatifnya dapat berkembang dan menemukan bentuk yang indah indah.
Dengan ditopang kemampuan akademisnya dia mampu melaksanakan kerja kemanusian yang disemangati ajaran Islam.

Ketiga: kualitas Insan Pengabdi
Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau sesama umat.
Sadar membawa tugas insan pengabdi bukan hanya membuat dirinya baik, tapi juga membuat disekelilingnya menjadi baik.
Insan akdemis, pencipta dan pengabdi adalah yang pasrah cita citanya yang ikhlas mengamalkan ilmunya untuk kepentingan sesamanya.

Keempat: kualitas insan yang bernafaskan Islam
Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola pikir dan pola lakunya tanpa memakai merk Islam. Islam akan menjadi pedoman dalam berkarya dan mencipta sejalan dengan mission Islam. Dengan demikian Islam telah menafasi dan menjiwai karyanya.

Ajaran Islam telah berhasil membentuk “unity of personality” dalam dirinya. Nafas Islam telah membentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personality tidak pernah ada dilema antara dirinya sebagai warga negara dan dirinya sebagai muslim insan ini telah meng-integrasi-kan masalah suksesnya dalam pembangunan nasional bangsa ke dalam suksesnya perjuangan umat Islam Indonesia dan sebaliknya.

Kelima: Kualitas insan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Insan akademis, Pencipta dan Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Berwatak, sanggup memikul akibat akibat yang dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral.

Spontan dalam menghadapi tugas, responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan dan jauh dari sikap apatis. Rasa tanggung jawab taqwa kepada Allah SWT, yang menggugah untuk mengambil peran aktif dalam suatu bidang dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT. Korektif terhadap setiap langkah yang berlawanan dengan usaha mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Menurut penulis bahwa kesatuan dari formulasi kualitas insan cita diatas merupakan sesuatu yang memenuhi persyaratan sebagai seorang mujtahid apabila dimiliki oleh kader HMI. Disamping juga secara otomatis bahwa kualitas Insan pencipta diatas juga memberikan gambaran bahwa seorang kader HMI haruslah produktif yang selanjutnya secara luas bisa dikatakan sebagai seorang mujtahid.

Namun, apakah pengkaderan HMI maupun kader kader HMI secara personal dapat merealisasikan kualitas insan cita dalam diri para kader? Yang selanjutnya menjadi seorang mujtahid yang mampu memberikan pemikiran sebagai resolusi kemajuan umat Islam?

Hal ini harus lah disikapi secara cermat dan bijaksana agar kiranya HMI kembali kepada khittah awal pembentukannya yang salah satunya bertujuan untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam.

PENULIS ADALAH KADER HMI CABANG MEDAN
Don't Miss

News Feed