Kamis, 26 Oktober 2017

Latar Belakang Peradaban Agama Budha di Pontianak

Latar Belakang Peradaban Agama Budha di Pontianak
banner 468x60



Religi, LintasTotabuan.com - Klenteng atau kelenteng (bahasa hokkian,bio) merupakan sebutan untuk tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada umumnya. Hal ini di karenakan di indonesia penganut kepercayaan tionghoa sering di samakan sebagai penganut agama Konghucu, maka dengan sendirinya sering di anggap sama dengan tempat ibadah agama konghicu.



Adapun beberapa daerah, klenteng juga di sebut istilah tokong. Istilah ini diambil dari suara lonceng yang dibunyikan pada saat penyelengara upacara. Kelenteng istilahnya "Genetic" ibadah yang benuansa arsitektur Tionghoa, dan sebutan ini hanya di kenal di pulau jawa. Sementara di wilayah lain yang ada di indonesia dengan contohnya Sumatera mereka menyebutnya Bio, di sumatera timur mereka menyebutnya pekong atau bio, di kalimantan di orang hakka menyebutnya klenteng dengan istilah Thai Pakkung, bisa juga pakkung miau atau shinmiau. Tapi dengan seiring waktu, istilah 'klenteng' menjadi umum dan mulai meluas penggunaannya.



Lanjut, Klenteng bagi masyarakat Thionghoa tidak hanya berartisebagai tempat ibadah saja, selain Gong-guan (Kongkuan), klenteng mempunyai peran yang sangat besar dalam kehidupan komunitas Tionghoa dimasa lampau.



Adapun diketahui klenteng pertama kali di bangun pada tahun 1650 oleh Letnan Kwee Hoen dan dinamakan Kwan I'm Teng. Selain itu di persembahkan kepada Kwan I'm,dengan istilah dewi pewalas asih atau Avalokutesvara bodhisatya dari kata kwan I'm Teng. 

Namun di indonesia Klenteng di kenal dengan nama Vihara. Hal ini merupakan sebutan umum bagi klenteng di Republik Rakyat Tiongkok.



Adapun menurut salah satu ahli waris peninggalan klenteng yang bernama Lim Seng Hak alias Subroto ini menjelaskan sejarah berdirinya klenteng Tersebut berdasarkan paparan dari Biksu bernama Lim U Tek yang lahir di Kekjo Tiongkok pada tanggal 3 Juli 1915 dirinya banyak melakukan kegiatan sosial terutama ketika pada jaman masa kependudukan. 

Lim U Tek adalah seorang biksu yang tidak menikah , maka ia mengangkat 3 orang anak. Adapu ketiga anak tersebut yaitu: Tjiang Seng, Lim A Sai (Saiman Ngabianto) dan Lie Song Kia (Subroto Ali).




(Muri)
Don't Miss

Berita Terkini