Breaking News

Konflik Antar Nelayan, PNTI Batu Bara Berikan Alternatif Solusi

loading...


BATU BARA, LintasTotabuan.com  l

Konflik antar nelayan besar dengan nelayan kecil terus akan berlanjut bila keberpihakan yang berkeadilan belum diterapkan pada kawasan perairan Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara meliputi Perairan Sergai, Deli Serdang khususnya kawasan pesisir pantai Batu Bara. 

Pemegang kebijakan harus menyadari bahwa perairan pantai Timur Provinsi Sumatera Utara termasuk kategori Over Fishing (kelebihan tangkap) yang tak sebanding lagi dengan potensi tangkapan (Carrying Capacity) yang ada. Hal tersebut di katakan Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Nelayan Tradisional Indonesia (DPD PNTI) Kabupaten Batubara, Ir Azwar Hamid M.Sc kepada Wartawan, Sabtu (23/03/2019) menanggapi konflik antar Nelayan besar dan Kecil yang terjadi baru baru ini di Perairan Pagurawan. 

Menurut lulusan S2 dari Philipines ini, sudah saatnya perencanaan Program program Pengembangan Sektor perikanan dan Kelautan harus dapat diandalkan dan dikembangkan serta kebijakan sektor perikanan harus sejalan dengan upaya peningkatan ekonomi masyarakat nelayan pesisir khususnya di Batu Bara. 

"harus di prioritaskan pada sektor budidaya, meliputi budidaya air payau, air tawar pada perairan umum yang potensinya belum dimanfaatkan secara optimal. Artinya penambahan jumlah kapal tangkap untuk nelayan tradisional bukanlah solusi yang tepat. selain itu upaya perbaikan dan terobosan yang tepat dapat dilakukan pada kawasan perairan pantai, solusi alternatifnya antara lain dapat dicontoh di daerah kawasan Pesisir Pantai Desa Kuala Indah Kecamatan Sei Suka yaitu Rumponisasi yang tentunya ditanamkan pada jalur/ zona 6 mil laut pada koordinat tertentu yang diyakini berimplikasi sangat positif baik bagi nelayan tradisional maupun bagi masyarakat pesisir pantai Batubara". bebernya

Kemudian, dikatakan mantan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Batubara itu meyakini, dengan rumponisasi pada koordinat tertentu, secara langsung atau tidak langsung akan dapat menghambat operasi pukat trawl/ tarik maupun Grandong masuk dibawah zona 6 mil laut yang notabene diperuntukkan bagi nelayan tradisional yang diketahui menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan. 

"sejalan dengan aplikasi rumponisasi, program penggantian jaring bagi nelayan Trawl/ Tarik dapat dikoordinasikan dan dilaksanakan dengan baik. Dan dengan rumponisasi juga membantu sistem pengawasan perusakan ecosistem laut yang sampai saat ini masih belum berjalan dengan baik karena keterbatasan sarana/ aparat Pol Airut dan lainnya". pungkasnya (ltc) 

loading...

Tidak ada komentar